kamu dan tujuh
Langit malam dihiasi ketiadaan. Kamu sendiri. Bersama kakimu jelajahi Seoul yang sepi. Niat awalmu buat jajan odeng kesukaanmu, tapi gerainya tutup dan kamu tidak mau kembali ke kamarmu. Jadi, tinggal kamu dan tungkaimu yang lebih pilih jalan-jalan membelah malam, beriringan bersama dingin menuju tempat yang tak tahu kenapa kamu tuju. Dari sini, kelap-kelip pencakar langit membutakan matamu. Mungkin karena itu bintang jadi malu, padahal bagimu relap binar itu sejatinya kelabu. Ah, kamu jadi ingat sesuatu. Kenangan lama yang membeku dan seulas senyum terukir di parasmu. Dahulu, kamu jadikan ini tempat habiskan waktu. Tujuh tahun lalu, kamu gadis lugu yang berangkat ke Seoul berbekal satu gelar, sejumput ilmu, dan sebelantara keyakinan untuk memulai hidup baru. Kamu jadi gelandangan untuk satu hari yang panjang, lantas berhenti meluruskan kaki di sini dan dihampiri ahjumma baik hati yang tawari sepetak ruangan kecil untuk ditinggali. Tiap matahari telah...